Kiat Sukses Menjadi Netpreneur

Berikut ini, kiat-kiat sukses menjadi netpreneur, diantaranya adalah:

1. Kecepatan.

Dengan segala percepatan perkembangan teknologi, globalisasi, dan internet, laju perubahan pun semakin cepat dari yang pernah dibayangkan. Karena itu, Anda  harus bisa mengantisipasinya dan sanggup bereaksi cepat, tapi juga penuh perhitungan.

2. Kemampuan Beradaptasi.

Laju perubahan yang terjadi pada dunia internet membutuhkan bisnis yang lebih fleksibel dan adaptif dibandingkan sebelumnya. Anda  harus menambah pengetahuan dan mampu menginterpretasinya, serta secara cepat merespon perubahan tersebut dimanapun terjadinya baik dalam teknologi dan kompetisi, juga pada pergantian pola pasar dan pembeli-.

3. Eksperimen.

Seorang netpreneur harus bersedia mencoba ide-ide baru di pasar yang dibidiknya. Anda  tidak memiliki banyak waktu atau hanya mengandalkan ‘market research’ yang sudah tidak up to date untuk mengevaluasi tindakan-tindakan Anda . Eksperimen dan siap bergerak cepat untuk beradaptasi dengan apa yang dibutuhkan dan diinginkan pasar kepada Anda .

4. Inovasi Yang Konstan.

Meluncurkan produk ke pasar hanyalah sebuah permulaan. Dorongan kompetisi yang tak kenal henti dan tuntutan pasar terhadap perbaikan membuat fokus bisnis pada inovasi sangat penting.

5. Kolaborasi.

Sudah menjadi sifat dari netpreneur menjadi kolaboratif. Anda tidak bisa bekerja sendiri di pergerakan dengan kecepatan seperti ini. Internet memungkinkan Anda melibatkan banyak pemilik perusahaan dalam setiap langkah. Mulai dari kelahiran sebuah produk melalui riset, pembangunan produk, pengemasan, pengiriman, support dan proses perbaikan yang terus berjalan.

6. Jadilah Penggerak Distribusi.

Tantangan nyata dari dunia bisnis saat ini adalah distribusi penyebaran merek serta identitas produk dan jasa Anda -.
Satu hal yang paling terasa, internet memperkecil hambatan distribusi. Untuk itu, Anda harus membangun merek dan saluran distribusi demi kesinambungan kesuksesan bisnis.

7. Fokus Pada Niche Market.

Internet menjangkau dan mendistribusi kesempatan bisnis pada pasar
baru yang terbuka. Karena itu, netpreneur harus memfokuskan pada sektor pasar yang terdefinisi dengan baik -yaitu pada niche market atau pasar ceruk- agar dapat meraih posisi dominan atau menemukan pasar yang belum atau kurang terlayani. Walau kenyataannya, kesempatan yang paling menggairahkan terletak pada menciptakan pasar yang baru.

8. Jadilah Multidisipliner.

Perusahaan dalam era ekonomi baru seperti sekarang menciptakan solusi dengan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu seperti teknologi, content, grafis, layanan dan hubungan. Karena itu, seorang netpreneur sukses biasanya memahami berbagai disiplin ilmu.

Itulah kemampuan yang harus dimiliki seorang netpreneur dalam lingkungan bisnis yang berubah dengan cepat.

Published in: on January 20, 2009 at 6:53 am  Leave a Comment  

Tips Memulai Bisnis dan Usaha

Sebenarnya banyak sekali yang harus dipelajari untuk jadi wiraswastawan/ ti yang sukses. Ada yang belajar melalui teori atau ada yang belajar dari pengalaman orang lain lalu kemudian menjalani, dan ada yang langsung terjun ke dunia wiraswasta. Cara manapun yang diambil tidak ada yang salah,  hanya saja akan mempunyai konsekuensi masing2.

Secara teoritis seorang wiraswastawan/ ti harus mempunyai KSA, knowledge-skill- attitude.

Knowledge adalah pengetahuan teoritis.

Skill adalah keterampilan, biasanya ada 2 yaitu soft-skill dan hard-skill.

Attitude adalah perilaku kita.

Knowledge

Sebagai seorang wiraswasta kita harus tahu mengenai teori2 yang berkaitan dengan management. Misalkan saja menghitung biaya, proses/alur kerja, pemasaran, pembukuan, pricing strategy, dan banyak lagi lainnya.

Skill

Seperti yang saya sebut tadi ada dua macam yaitu hard skill dan soft skill. Secara mudah saya definisikan hard skill adalah keterampilan yang berhubungan dengan knowledge/teori, sedangkan soft skill adalah keterampilan yang berhubungan dengan hubungan antar manusia.

Contoh hard skill, misalkan membuat special discount membership untuk pelanggan salon. Membership akan mendorong stability demand tapi berhubungan juga dengan perhitungan biaya, estimasi pendapatan. Special discount membership ini semuanya berkaitan dengan perhitungan kuantitatif yang memakai ilmu2 dasar (knowledge) mengenai biaya, anggaran, hukum demand-supply, daya beli pelanggan, dlsb.

Contoh soft skill, misalkan bernegosiasi dengan pelanggan, presentasi produk supaya menarik pembeli/pelanggan, leadership, dsb.

Attitude

Seorang wiraswasta harus mempunyai sifat2 seperti berikut pantang menyerah, inovatif, berpikir positif, berorientasi pada layanan yang baik, dan sebagainya.

Sebenarnya banyak hal yang harus dipelajari dan diketahui untuk menjadi wiraswasta tetapi kita akan ketinggalan dari orang lain kalau harus belajar semua aspek bisnisnya. Kalau terjun langsung ke wiraswasta tanpa tahu teori juga akan menaikkan risiko (mungkin anda perlu cari tahu mengenai learning cost).

Banyak orang menjalankan suatu aktifitas dengan kesenangan hati (hobby) dan kemudian mengkonversinya ke bisnis, misalkan senang tanaman hias kemudian membuka outlet tanaman hias, senang travel kemudian membuka biro perjalanan, senang makan kemudian membuat acara wisata kuliner, dsb. Orang2 jenis ini sebenarnya telah belajar tentang proses dari sebuah kegiatan bisnis sehingga ketika membuka bisnisnya sendiri mereka sudah tahu benar tentang proses, misalkan merekomendasi tanaman untuk sebuah taman yang terbuka, merekomendasi paket liburan, menyarankan potongan rambut yang cocok, dsb.

Banyak juga orang yang langsung terjun berbisnis, ada yang langsung berhasil ada juga yang jatuh bangun dan setelah beberapa kali mencoba baru berhasil.

Kalau anda ingin langsung menjalankan bisnis tersebut, anda harus menjalaninya dengan rasa senang hati walaupun nanti ada pelanggan yang marah. Anda juga harus belajar hard-soft skill secepat mungkin, pelajari proses kerja, menghitung biaya/anggaran/ arus kas, berhubungan dengan pelanggan, dsb. Anda juga harus tetap waspada akan persaingan bisnis, perubahan lingkungan, hubungan kerja dengan anak buah, dll.

Mungkin anda jadi pusing membaca artikel saya ini, tetapi that is the fact about entrepreneur. Anda tidak perlu berkecil hati kalau hari ini bingung, anda bisa mulai dengan berpikir positif, kemauan kuat, mau belajar dan yakin anda bisa, maka anda akan sukses berwiraswasta.

Sekali anda takut gagal, sekali anda berpikir negatif, sekali anda patah semangat, maka anda akan gagal dan Jadi buang jauh2 hal2 buruk tersebut.

Published in: on January 20, 2009 at 5:13 am  Leave a Comment  

5 Jenis Bisnis Online

5  Jenis Bisnis Online :

1. Menjual produk / keahlian yang dimiliki
Jika kita mempunyai produk / keahlian tertentu, maka kita bisa menjualnya lewat internet. Caranya bermacam – macam, bisa dengan membuat website sendiri untuk berjualan, promosi / pasang iklan di situs – situs tertentu tanpa harus mempunyai situs, dll. Produknya pun bermacam – macam, bisa berupa produk nyata, e-book, voucher, dll.

2. Menjual produk orang lain atau nama lainnya Affiliate Marketing
Jika kita tidak punya produk / keahlian yang bisa dijual, maka bisa juga menjual produk orang lain. Tentunya nanti kita akan mendapat komisi dari hasil penjualan tersebut. Contoh yang paling gampang adalah menjual produk dari Amazon.com.

3. Menjual iklan
Jualan iklan ada bermacam – macam jenis. Bisa berupa memasang iklan ppc (cth : google adsense), space iklan banner, product review, text link, dll. Namun syaratnya jelas harus mempunyai situs atau blog. Situs / blog pun tidak bisa sembarang situs / blog, tetapi harus memiliki 3 poin penting yaitu : trafik yang cukup besar, page rank yang tinggi, SEO yang bagus.

4. Jual beli situs atau nama kerennya flipping site
Untuk terjun di bisnis ini memang setidaknya harus mempunyai keahlian dan feeling yang bagus mengenai situs mana yang layak dibeli untuk dijual lagi atau tidak. Serta keahlian untuk memperbaiki situs tersebut agar pada saat dijual memiliki nilai lebih dari sebelumnya.

5. Lain – lain
Jenis yang kelima ini saya tidak tahu termasuk kategori mana. Contoh bisnisnya misalnya ikut program PTC (paid to click = dengan meng-klik iklan maka kita dapat bayaran), PTS (paid to search = dengan melakukan search data maka kita dapat bayaran), PTR (paid to review = dengan melakukan review / ulasan tentang suatu produk maka kita dapat bayaran), PTP (paid to post = join di forum lalu kita posting / kirim pendapat disana maka kita dapat bayaran), dll.. Namun yang harus diperhatikan dalam mengikuti program – program tersebut adalah pastikan bahwa program tersebut bukan scam / penipuan. Karena ada beberapa (bahkan banyak) broker – broker tersebut tidak membayar kita.

Published in: on January 17, 2009 at 5:42 am  Leave a Comment  

Cara Negosiasi Yang Baik

Sebenarnya tanpa kita sadari, setiap hari kita sesungguhnya selalu melakukan negosiasi. Negosiasi adalah sesuatu yang kita lakukan setiap saat dan terjadi hampir di setiap aspek kehidupan kita. Selain itu negosiasi adalah cara yang paling efektif untuk mengatasi dan menyelesaikan konflik atau perbedaan kepentingan. Kita memperoleh apa yang kita inginkan melalui negosiasi. Mulai dari bangun pagi, mungkin kita harus mengambil kesepakatan siapa yang harus menggunakan kamar mandi terlebih dahulu, kemudian apakah sopir harus mengantar isteri anda atau anda terlebih dahulu. Demikian pula di kantor misalnya kita melakukan negosiasi dalam rapat direksi, rapat staf, bahkan untuk menentukan dimana akan makan siang kita harus bernegosiasi dengan rekan sekerja kita.

Jadi kita semua pada dasarnya adalah negosiator. Beberapa dari kita melakukannya dengan baik, sedangkan sebagian lagi tidak pernah memenangkan negosiasi. Sebagian kita hanya menjadi pengikut atau selalu mengikuti dan mengakomadasi kepentingan orang lain. Negosiasi dilakukan oleh semua manusia yang berinteraksi dengan manusia lainnya. Mulai dari anak kecil sampai orang tua, semua lapisan dari kalangan sosial terbawah sampai dengan kaum elit di kalangan atas. Negosiasi dilakukan mulai dari rumah, sekolah, kantor, dan semua aspek kehidupan kita. Oleh karena itu penting bagi kita dalam rangka mengembangkan dan mengelola diri (manajemen diri), untuk dapat memahami dasar-dasar, prinsip dan teknik-teknik bernegosiasi sehingga kita dapat melakukan negosiasi serta membangun relasi yang jauh lebih efektif dan lebih baik dengan siapa saja.

Kita bernegosiasi dengan siapa saja, mulai dari isteri atau suami, anak, orang tua, bos kita, teman dan relasi bisnis. Dan kegiatan negosiasi kita lakukan setiap saat setiap hari. Negosiasi dapat berupa apa saja – gaji kita, mobil dan rumah yang kita beli, biaya servis mobil, biaya liburan keluarga, dan sebagainya. Negosiasi terjadi ketika kita melihat bahwa orang lain memiliki atau menguasai sesuatu yang kita inginkan. Tetapi sekedar menginginkan tidak cukup. Kita harus melakukan negosiasi untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dari pihak lain yang memilikinya dan yang juga mempunyai keinginan atas sesuatu yang kita miliki. Sedangkan agar
negosiasi dapat terjadi dengan sukses, kita harus juga bersiap untuk memberikan atau merelakan sesuatu yang bernilai yang dapat kita tukar dengan sesuatu yang kita inginkan tersebut.

Dalam buku Teach Yourself Negotiating, karangan Phil Baguley, dijelaskan tentang definisi NEGOSIASI yaitu suatu cara untuk menetapkan keputusan yang dapat disepakati dan diterima oleh dua pihak dan menyetujui apa dan bagaimana tindakan yang akan dilakukan di masa mendatang. Sedangkan negosiasi memiliki sejumlah karakteristik utama, yaitu:

1. senantiasa melibatkan orang – baik sebagai individual, perwakilan organisasi atau perusahaan, sendiri atau dalam kelompok;
2. memiliki ancaman terjadinya atau di dalamnya mengandung konflik yang terjadi mulai dari awal sampai terjadi kesepakatan dalam akhir negosiasi;
3. menggunakan cara-cara pertukaran sesuatu – baik berupa tawar menawar (bargain) atau tukar menukar (barter);
4. hampir selalu berbentuk tatap-muka – yang menggunakan bahasa lisan, gerak tubuh maupun ekspresi wajah;
5. negosiasi biasanya menyangkut hal-hal di masa depan atau sesuatu yang belum terjadi dan kita inginkan terjadi;
6. ujung dari negosiasi adalah adanya kesepakatan yang diambil oleh kedua belah pihak, meskipun kesepakatan itu misalnya kedua belah pihak sepakat untuk tidak sepakat.

Manajemen Konflik

Karena setiap negosiasi memiliki potensi konflik dalam seluruh prosesnya, penting sekali bagi kita untuk memahami cara mengatasi atau menyelesaikan konflik. Untuk menjelaskan berbagai alternative penyelesaian konflik dipandang dari sudut menang – kalah masing-masing pihak, ada empat kuadran manajemen konflik:

1. Kuadran Kalah-Kalah (Menghindari konflik)

Kuadran keempat ini menjelaskan cara mengatasi konflik dengan menghindari konflik dan mengabaikan masalah yang timbul. Atau bisa berarti bahwa kedua belah pihak tidak sepakat untuk menyelesaikan konflik atau menemukan kesepakatan untuk mengatasi konflik tersebut.
Kita tidak memaksakan keinginan kita dan sebaliknya tidak terlalu menginginkan sesuatu yang dimiliki atau dikuasai pihak lain. Cara ini sebetulnya hanya bisa kita lakukan untuk potensi konflik yang ringan dan tidak terlalu penting. Jadi agar tidak menjadi beban dalam pikiran atau kehidupan kita, sebaiknya memang setiap potensi konflik harus dapat segera diselesaikan.

2. Kuadran Menang-Kalah (Persaingan)

Kuadran kedua ini memastikan bahwa kita memenangkan konflik dan pihak lain kalah. Biasanya kita menggunakan kekuasaan atau pengaruh kita untuk memastikan bahwa dalam konflik tersebut kita yang keluar sebagai pemenangnya. Biasanya pihak yang kalah akan lebih
mempersiapkan diri dalam pertemuan berikutnya, sehingga terjadilah suatu suasana persaingan atau kompetisi di antara kedua pihak. Gaya penyelesaian konflik seperti ini sangat tidak mengenakkan bagi pihak yang merasa terpaksa harus berada dalam posisi kalah, sehingga sebaiknya hanya digunakan dalam keadaan terpaksa yang membutuhkan penyelesaian yang cepat dan tegas.

3. Kuadran Kalah-Menang (Mengakomodasi)

Agak berbeda dengan kuadran kedua, kuadran ketiga yaitu kita kalah – mereka menang ini berarti kita berada dalam posisi mengalah atau mengakomodasi kepentingan pihak lain. Gaya ini kita gunakan untuk menghindari kesulitan atau masalah yang lebih besar. Gaya ini juga merupakan upaya untuk mengurangi tingkat ketegangan akibat dari konflik tersebut atau menciptakan perdamaian yang kita inginkan. Mengalah dalam hal ini bukan berarti kita kalah, tetapi kita menciptakan suasana untuk memungkinkan penyelesaian yang paripurna terhadap konflik yang timbul antara kedua pihak. Mengalah memiliki esensi kebesaran jiwa dan memberi kesempatan kepada pihak lain untuk juga mau mengakomodasi kepentingan kita sehingga selanjutnya kita bersama bisa menuju ke kuadran pertama.

4. Kuadran Menang-Menang (Kolaborasi)

Kuadran pertama ini disebut dengan gaya manajemen konflik kolaborasi atau bekerja sama. Tujuan kita adalah mengatasi konflik dengan menciptakan penyelesaian melalui konsensus atau kesepakatan bersama yang mengikat semua pihak yang bertikai. Proses ini biasanya yang
paling lama memakan waktu karena harus dapat mengakomodasi kedua kepentingan yang biasanya berada di kedua ujung ekstrim satu sama lainnya. Proses ini memerlukan komitmen yang besar dari kedua pihak untuk menyelesaikannya dan dapat menumbuhkan hubungan jangka panjang yang kokoh . Secara sederhana proses ini dapat dijelaskan bahwa masing-masing pihak memahami dengan sepenuhnya keinginan atau tuntutan pihak lainnya dan berusaha dengan penuh komitmen untuk mencari titik temu kedua kepentingan tersebut.

Negosiasi Dengan Hati

Pada dasarnya negosiasi adalah cara bagaimana kita mengenali, mengelola dan mengendalikan emosi kita dan emosi pihak lain. Disinilah seringkali banyak diantara kita tidak menyadari bahwa
negosiasi sebenarnya lebih banyak melibatkan apa yang ada di dalam hati atau jiwa seseorang. Ini seperti gambaran sebuah gunung es, dimana puncak yang kelihatan merupakan hal-hal yang formal, tuntutan yang dinyatakan dengan jelas, kebijakan atau prosedur perusahaan, maupun hubungan atau relasi bisnis yang didasarkan pada hitungan untung rugi. Sedangkan yang sering dilupakan dalam proses negosiasi adalah hal-hal yang tidak kelihatan, seperti misalnya hasrat,
keinginan, perasaan, nilai-nilai maupun keyakinan yang dianut oleh individual yang terlibat dalam konflik atau yang terlibat dalam proses negosiasi. Hal-hal yang didalam inilah justru seringkali
menjadi kunci terciptanya negosiasi yang sukses dan efektif.

Negosiasi sebenarnya melibatkan tiga hal pokok yang kami sebut sebagai Negotiation Triangle, yaitu terdiri dari HEART (yaitu karakter atau apa yang ada di dalam kita yang menjadi dasar dalam kita melakukan negosiasi), HEAD (yaitu metoda atau teknik-teknik yang kita gunakan dalam melakukan negosiasi), HANDS (yaitu kebiasaan- kebiasaan dan perilaku kita dalam melakukan negosiasi yang semakin menunjukkan jam terbang kita menuju keunggulan atau keahlian dalam bernegosiasi).

Jadi sebenarnya tidaklah cukup melakukan negosiasi hanya berdasarkan hal-hal formal, kebijakan dan prosedur, atau teknik-teknik dalam negosiasi. Justru kita perlu menggunakan ketiga komponen tersebut yaitu: karakter, metoda dan perilaku. Dalam banyak hal, negosiasi
justru tidak terselesaikan di meja perundingan atau meja rapat formal, tetapi justru dalam suasana yang lebih informal dan relaks, di mana kedua pihak berbicara dengan hati dan memanfaatkan sisi kemanusiaan pihak lainnya. Karena pada dasarnya selain hal-hal
formal yang ada dalam proses negosiasi, setiap manusia memiliki keinginan, hasrat, perasaan, nilai-nilai dan keyakinan yang menjadi dasar bagi setiap langkah pengambilan keputusan yang dilakukannya.

Langkah-langkah bernegosiasi

Persiapan

Langkah pertama dalam melakukan negosiasi adalah langkah persiapan. Persiapan yang baik merupakan fondasi yang kokoh bagi negosiasi yang akan kita lakukan. Hal tersebut akan memberikan rasa percaya diri yang kita butuhkan dalam melakukan negosiasi. Yang pertama harus kita lakukan dalam langkah persiapan adalah menentukan secara jelas apa yang ingin kita capai dalam negosiasi. Tujuan ini harus jelas dan terukur, sehingga kita bisa membangun ruang untuk bernegosiasi. Tanpa tujuan yang terukur, kita tidak memiliki pegangan untuk melakukan tawar menawar atau berkompromi dengan pihak lainnya.

Hal kedua dalam persiapan negosiasi adalah kesiapan mental kita. Usahakan kita dalam kondisi relaks dan tidak tegang. Cara yang paling mudah adalah dengan melakukan relaksasi (sudah pernah kita bahas dalam edisi Mandiri 22). Bagi kita yang menguasai teknik pemrograman kembali bawah sadar (subconscious reprogramming) kita dapat melakukan latihan negosiasi dalam pikiran bawah sadar kita, sehingga setelah melakukannya berkali-kali secara mental, kita
menjadi lebih siap dan percaya diri.

Pembukaan

Mengawali sebuah negosiasi tidaklah semudah yang kita bayangkan. Kita harus mampu menciptakan atmosfir atau suasana yang tepat sebelum proses negosiasi dimulai. Untuk mengawali sebuah negosiasi dengan baik dan benar, kita perlu memiliki rasa percaya diri, ketenangan, dan kejelasan dari tujuan kita melakukan negosiasi. Ada tiga sikap yang perlu kita kembangkan dalam mengawali negosiasi yaitu: pleasant (menyenangkan), assertive (tegas, tidak plin-plan), dan firm (teguh dalam pendirian). Senyum juga salah satu hal yang kita perlukan dalam mengawali sebuah negosiasi, sehingga hal tersebut akan memberikan perasaan nyaman dan terbuka bagi kedua pihak. Berikut ada  beberapa tahapan dalam mengawali sebuah negosiasi:

a. Jangan memegang apapun di tangan kanan anda ketika memasuki ruangan negosiasi;
b. Ulurkan tangan untuk berjabat tangan terlebih dulu;
c. Jabat tangan dengan tegas dan singkat;
d. Berikan senyum dan katakan sesuatu yang pas untuk mengawali pembicaraan.

Selanjutnya dalam pembicaraan awal, mulailah dengan membangun common ground, yaitu sesuatu yang menjadi kesamaan antar kedua pihak dan dapat dijadikan landasan bahwa pada dasarnya selain memiliki perbedaan, kedua pihak memiliki beberapa kesamaan yang dapat dijadikan dasar untuk membangun rasa percaya.

Memulai proses negosiasi

Langkah pertama dalam memulai proses negosiasi adalah menyampaikan (proposing) apa yang menjadi keinginan atau tuntutan kita. Yang perlu diperhatikan dalam proses penyampaian tujuan kita tersebut adalah:

a. Tunggu saat yang tepat bagi kedua pihak untuk memulai pembicaraan pada materi pokok negosiasi;
b. Sampaikan pokok-pokok keinginan atau tuntutan pihak anda secara jelas, singkat dan penuh percaya diri;
c. Tekankan bahwa anda atau organisasi anda berkeinginan untuk mencapai suatu kesepakatan dengan mereka;
d. Sediakan ruang untuk manuver atau tawar menawar dalam negosiasi, jangan membuat hanya dua pilihan ya atau tidak;
e. Sampaikan bahwa “jika mereka memberi anda ini anda akan memberi mereka itu – if you’ll give us this, we’ll give you that.” Sehingga mereka mengerti dengan jelas apa yang harus mereka berikan  sebagai kompensasi dari apa yang akan kita berikan.

Hal kedua dalam tahap permulaan proses negosiasi adalah mendengarkan dengan efektif apa yang ditawarkan atau yang menjadi tuntutan pihak lain. Mendengar dengan efektif memerlukan kebiasaan dan teknik- teknik tertentu. Seperti misalnya bagaimana mengartikan gerakan
tubuh dan ekspresi wajah pembicara. Usahakan selalu membangun kontak mata dengan pembicara dan kita berada dalam kondisi yang relaks namun penuh perhatian.

Zona Tawar Menawar (The Bargaining Zone)

Dalam proses inti dari negosiasi, yaitu proses tawar menawar, kita perlu mengetahui apa itu The Bargaining Zone (TBZ). TBZ adalah suatu wilayah ruang yang dibatasi oleh harga penawaran pihak penjual (Seller’s Opening Price) dan Tawaran awal oleh pembeli (Buyer’s Opening Offer). Di antara kedua titik tersebut terdapat Buyer’s Ideal Offer, Buyer’s Realistic Price dan Buyer’s Highest Price pada sisi pembeli dan Seller’s Ideal Price, Seller’s Realistic Price dan Seller’s Lowest Price pada sisi pembeli.

Kesepakatan kedua belah pihak yang paling baik adalah terjadi di dalam wilayah yang disebut Final Offer Zone yang dibatasi oleh Seller’s Realistic Price dan Buyer’s Realistic Price. Biasanya
kesepakatan terjadi ketika terdapat suatu overlap antara pembeli dan penjual dalam wilayah Final Offer Zone.

Membangun Kesepakatan

Babak terakhir dalam proses negosiasi adalah membangun kesepakatan dan menutup negosiasi. Ketika tercapai kesepakatan biasanya kedua pihak melakukan jabat tangan sebagai tanda bahwa kesepakatan (deal or agreement) telah dicapai dan kedua pihak memiliki komitmen untuk melaksanakannya.

Yang perlu kita ketahui dalam negosiasi tidak akan pernah tercapai kesepakatan kalau sejak awal masing-masing atau salah satu pihak tidak memiliki niat untuk mencapai kesepakatan. Kesepakatan harus dibangun dari keinginan atau niat dari kedua belah pihak. Sehingga kita tidak bertepuk sebelah tangan. Sehingga penting sekali dalam awal-awal negosiasi kita memahami dan mengetahui sikap dari pihak lain, melalui apa yang disampaikan secara lisan, bahasa gerak tubuh maupun ekspresi wajah. Karena jika sejak awal salah satu pihak ada yang tidak memiliki niat atau keinginan untuk mencapai kesepakatan, maka hal tersebut berarti membuang waktu dan energi kita. Untuk itu perlu dicari jalan lain, seperti misalnya: conciliation, mediation dan arbitration melalui pihak ketiga.

Demikian sekilas mengenai negosiasi, yang tentunya masih banyak hal lain yang tidak bisa dikupas dalam artikel pendek. Yang penting bagi kita selaku praktisi Mandiri, kita harus tahu bahwa negosiasi bukan hal yang asing. Setiap kita adalah negosiator dan kita melakukannya
setiap hari setiap saat. Selain itu negosiasi memerlukan karakter (artinya menggunakan seluruh hati dan pikiran kita), memerlukan penguasaan metoda ataupun teknik-tekniknya dan memerlukan kebiasaan dalam membangun perilaku bernegosiasi yang baik dan benar.

tambahan sedikit :

Cara Melakukan Negosiasi dengan Klien:
1. Kuasai dulu produk yang akan kita jual
2. Penguasaan komunikasi dan penampilan yang baik
3. Percaya diri yang baik
4. Hargai, klien merupakan sosok yang harus kita hormati
5. Arahkan pembicaraan yang membuat klien merasa tersanjung dan senang
6. Lihat kelemahan yang ada pada klien dan yakinkan dibalik itu semua ada kekuatan besar
7. Lihat siapa saja saingan yang terdekat dengan klien
8. Kuasai perusahaan pesaing klien agar kita kelihatan lebih pintar dan banyak tahu
9. Jangan bohong
10.Jangan meninggikan diri kita sendiri dan perusahaan kita secara berlebihan
11.Berikan solusi yang dibutuhklan klien
12.Jadilah pemenang

Published in: on January 17, 2009 at 5:30 am  Leave a Comment  
Tags:

Word of Mouth [WOM]

Word of Mouth atau biasa disingkat WOM, terkadang sering juga diartikan dengan sebutan “Marketing Lewat Mulut” (MLM-bukan Multi Level Marketing) dan dalam bahasa jawa disebut “Gethok Tular”.

Mengapa banyak perusahaan tertarik dengan metode ini ?
Selain memang cukup efektif, namun menurut hemat saya, sebagian besar
karena metode ini GRATIS, bukankah yang gratis banyak penggemarnya ?
Coba bandingkan dengan biaya komunikasi kepada konsumen yang harus
dikeluarkan jika memilih menggunakan media lain seperti TV, Koran atau
Billboard ?

Memperkenalkan produk atau Jasa dengan cara WOM, seyogyanya lebih
pantas untuk produk/jasa yang sudah lama launching. Karena untuk
produk baru, rata-rata belum memiliki base pelanggan, sehingga akan
sangat lama untuk menjadi besar.

Bisnis dari mulut ke mulut merupakan cara promosi yang cepat dan dapat diterima oleh masyarakat kita.

Kenapa begitu, berikut ini beberapa alasan :
1. Informasi dari mulut ke mulut cenderung cepat tersebar karena, satu orang yang memiliki info tersebut sedikitnya akan menyebarkan info tersebut kepada 5 orang kerabatnya. Dan apabila 5 orang kerabatnya menyebarkan info tersebut kepada 5 rekannya maka info tersebut sudah dapat diterima oleh 25 orang lain, dan begitu seterusnya yang akan terjadi. (Namun info ini akan cenderung cepat tersebar bila info yang disebarkan bersifat negatif).

2. Si penerima info di masyarakat kita biasanya cenderung akan tertarik untuk mencoba/mempercayai produk yang diceritakan oleh kerabatnya

3. Tingkat kepercayaan si penerima info biasanya lebih tinggi karena yang menyampaikan info tersebut adalah orang yang dia kenal.

4. Biaya yang dibutuhkan sedikit (bahkan cenderung tidak ada biayanya)

Itulah beberapa alasan mengapa Mouth To Mouth bisa berjalan efektif ,
apalagi bila info yang disebarkan mengenai produk yang berkaitan dengan wanita itu bisa lebih cepat tersebar .

Dari banyak penelitian  melalui SurveyOne, orang Indonesia akan menceritakan kepada sedikitnya 3 orang untuk hal-hal yang membuatnya senang atau puas. Namun, sebaliknya dia akan menceritakan kepada sedikitnya 15 orang untuk hal-hal yang membuatnya mengecewakan dan kepada sebanyak-banyaknya orang untuk hal-hal yang menjengkelkannya.
“WOM laksana bola salju, jika dapat terus menggelinding maka semakin hari akan semakin besar bolanya dan semakin banyak orang yang bisa melihatnya.  Namun jika bola tersebut berhenti menggelinding karena
tersangkut dipohon atau dibebatuan, maka siapa yang akan mendorongnya
agar dapat terus menggelinding? “

Menggunakan Metode WOM memiliki keuntungan dan Kerugian.

Kerugiannya :
1. Informasi tidak bisa dikontrol

Sehingga bisa saja hal Biasa menjadi Buruk atau bahkan menjadi “Luar Biasa” tergantung si pembawa berita.
2. Tidak ada target waktu mencapai tujuan WOM

Tidak bisa ditentukan jumlah pelanggan baru sebesar % dengan metode ini.
3. Mudah ditiru oleh kompetitor
4. Terkadang merek kita yang dibicarakan tetapi merek kompetitor yang
“panen”

Misalnya manfaat refleksi atau manfaat minum buah mengkudu, belum tentu produk yang dibeli adalah merek kita, bisa jadi yang dibeli adalah merek kompetitor yang berlokasi lebih dekat dengan calon pelanggan.
5. Tidak cocok untuk produk atau jasa yang baru diluncurkan
6. Produk/jasa harus benar-benar prima atau yang terbaik, karena
jarang atau hampir tidak ada orang yang merekomendasikan produk yang
biasa saja.

Keuntungannya :
1. Murah bahkan Gratis
2. Saat ini dapat menyebar dengan cepat dengan menggunakan VIRAL MARKETING
3. Lebih mudah meyakinkan calon konsumen karena informasi bersumber
dari orang yang dikenal
4. Tingkat loyalitasnya lebih tinggi
5. Lebih cepat menimbulkan pembelian dibanding dengan metode
komunikasi lainnya.

Terakhir, metode WOM lebih cocok digunakan untuk bidang JASA
dibandingkan untuk bidang PRODUK.

Coba ingat-ingat : apakah Rumah Sakit, Dokter, Taksi, Restaurant atau
Hotel atau yang kita pilih/gunakan selama ini karena iklannya
diberbagai media atau karena rekomendasi dari orang yang kita kenal?

Published in: on January 16, 2009 at 6:12 am  Leave a Comment  
Tags:
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.